Oktober 25, 2014

Bumi dan Langit

Kau tahu bagaimana bumi mengeja langit ?
Sepatah demi sepatah
Tak jarang lidah bumi kelu
Entah lelah meniti kata agar tak terbias ketika tiba di langit
atau ternganga terpukau menyongsong garis pelangi yang berpendar di singgasananya
Bumi melihat, namuntak mampu menjangkau

Langit pernah lelah, menggantung tak menapak
Melihat bumi dari persemayamannya membuat langit iri
Anggun..
Ingin turun bersama bumi, namun tak sanggup

September 24, 2014

Sepuluh

Terkadang, kita bertatap, bertemu mata untuk waktu yang tidak mampu diucap lama, namun yang ada bungkam saja, sementara hati ini senantiasa ingin mengunduh senyummu. Kita sering begitu, menyiakan waktu yang nyatanya tak sering luangnya bagi kita. Semesta amat mengerti, senangmu berlama-lama dalam diam lantas aku malah geram. Lagi, tagar berbeda kita tergores satu.

Bolehkan aku sekadar merindu tawamu? Tapi jangan izinkan aku menemuimu kembali karena rasanya segala akan berputar menjadi tidak semestinya saat kita berada pada satu garis lurus. Biarlah aku memuja rindu dalam keheningan senja sementara engkau tak sudah-sudahnya bergulat dengan kepedihan nikmatnya berlatih menghapus kita. Lalu, saat inilah yang bisa kita sebut sama. Melakukan laga yang tak berujung mungkin. Sia-sia.

September 24th 2014. 09:40.

November 18, 2013

Sembilan

Berpura-pura tak melihat di ladang cahaya yang menjelaskan segala rupa. Biar saja buta. Biar saja tuli. Biar saja mati rasa. Kadang ada baiknya.

0.47am

Delapan

Putri bercerita lagi...
Putri jatuh cinta pada pengelana yang singgah di istana. Saat putri ingin mengenal sang pengelana, pengelana membuat putri terkesima. Pengelana bukan pria yang baik. Namun putri berpiir, bukankah selama ini yang ia temukan bukanlah yang baik?
Pengelana membawa putri ke dunianya. Dunia yang tak asing bagi putri sebenarnya. Seulas senyum pengelana lagi-lagi membuat putri terkesima. Setiap guliran cerita pengelana didengar putri dengan seksama. Putri kembali jatuh cinta. Kemudian putri berencana. Menetapkan sang pengelana di istananya. Menjadikan pengelana lebih baik dan bersedia mendampingi sang putri.
Hari-hari singkat dijalani oleh putri dan pengelana. Bahkan telah tercipta bahasa yang hanya dapat dipahami oleh mereka berdua. Pengelana mengajak putri keluar istana. Putri bahagia.
Akan tetapi, datanglah satu waktu. Sang pengelana mengingkari janjinya. Berbohong pula. Putri teringat lagi. Pengelana adalah seorang penjudi pada dulunya. Berbuat semaunya saja. Putri kecewa. Tak tahu harus kecewa pada siapa. Mimpi putri kian tinggi sekali akan sang pengelana. Putri menangis sejadinya. Putri kecewa. Pengelana perlahan pergi. Tak tahu karena apa. Putri masih mampu berharap pengelan pergi karena malu mengingkari janji. Putri berharap pengelana juga jatuh cinta. Harapan putri belum ada jawabnya. Putri sedih. Betapa pengelana mampu membuatnya jatuh cinta dalam singkatnya waktu mereka bersama. Putri merasa bodoh. Namun segalanya memang dapat terjadi dalam cinta. Sang putri mudah sekali jatuh cinta.
Akankah sang pengelana kembali? Membawa kepingan harapan putri? Menjadi pengelana yang lebih baik? Adakah cinta dalam hati pengelan untuk sang putri? Pengelana...... bukankah ia selalu berkelana?

Juli 19, 2013

Tujuh

Tak terasa langit sore mulai berpendar, dari jingga perlahan mengelam. Waktu kini tlah sampai pada suatu jeda yang mengaburkan segala yang tadinya tampak. Jengah ku tatap wajah di cermin. Sudah jadi apa engkau wahai pengembara? Dapat apa engkau dari fananya dunia? Kala ku teliti lagi, betapa semakin pintar kau berpura-pura menyunggingkan senyum yang semestinya tak pantas kau tebarkan. Palsu. Kau merasa lengkap padahal kau kosong. Kau merasa tinggi padahal tetap kau terpuruk. Bahagiamu buatan. Lantas kau banggakan?

Ini hasil lagamu. Skenario yang teramat rapi kau susun sampai detik ini bergulir. Ceritanya semakin menarik. Biar kau luka, ini kau yang menorehnya. Sayatannya tipis tak terlihat. Namun satu saat kau sentuh barangkali kau akan meringis. Pedih. Iya, kau yang buat.

Segalanya membingungkan, katamu. Biar saja. Biar kau jera. Dan katanya manusia akan bahagia pada waktunya. Kau kan sudah bahagia. Bahagia buatan-buatanmu itu. Pualam kian bersinar terpantul cemerlang matamu. Tidakkah kau sadari? Semu atau tidak aku tak peduli. Kau yang buat. Pengertian yang tak pernah ku pahami. Biarlah, biar kau yang jadi.

Lalu kini kau terseok, memohon untuk jadi dirimu sendiri dan membual, menulis lagi cerita-cerita. Melanjutkan skenario yang akhirmya alurnya tak manusiawi lagi. Lautan airmata yang kau ciptakan lantas ingin kau surutkan? Ember penyesalanmu sudah berlubang. Tak akan mampu alirannya kau hentikan hingga akhir jaman. Dan tak lagi pantas kau besarkan volumenya dengan airmata yang tak ku ketahui buatan lagi atau bukan.

Kau pun berpura-pura lagi. Kaki jenjang itu kau bawa melaju, namun tangan pun terulur ke belakang. Berharap ada yang menggapai. Namun kau tak paham-paham. Tak ada gapaian yang kau harapkan. Ia telah lebur bersama lautan airmatanya sendiri. Kau tengok sesekali ke belakang. Kosong. Hitam. Lalu kau menangis lagi.